Minggu, 02 Januari 2011

Hanya ada dua sisi yang terlihat

Satu sisi aku melihat ruang gelap nan hitam pekat bersisikan kiri

Disisi lain kanannya adalah petak bercahaya

Aku berhenti mengejarmu karena aku ingin melepaslanmu

Aku berhenti berharap akanmu karena aku ingin meraih impian yang pernah ku titipkan pada langit

Aku berhenti melangkah karena aku tahu aku ingin membelokakan arah hidupku

Terkadang manusia tersesat

tak tahu arah pulang

dan berjejal dengan kepura-puraan

lalu hampa sendiri

Terkadang manusia sendiri

tak tahu kemana harus bersandar

menaruh punggung tak kunjung tegak

tak selamanya kokoh…

Berdamai dengan masa lalu

ada nyaman di sana

tak perlu ku menjadi matahari

karena ia akan menerimaku meski hanya bintang

Tak perlu ada yang kututupi

karena akan menerima apa adanya

tak akan menggugat sempurnaku

ia tahu lemah kurangku

aku pulang ke rumah

Aku beranjak ke hangat asal muasalku

aku disadarkan sejatinya jiwa

aku tanggalkan resahku..

Selamanya aku di sini..

tak ingin menggurat resah

tak ingin hilang lagi

aku kenal dia..

Malam ini dalam perjalanan pulang ..

Kusaksikan bulan menggantung di pelataran langit hitam

Belum bulat sempurna, masih ada sebagiannya gelap

Kutangkap ada pesan.. bulan malam ini murung..

Maka tampaklah sinarnya muram

Tak ada gairah, tak ada marah, tak pula damai

Bulan hanya menjalankan tugasnya, tanpa nama

Hanya berbekal resah

Maka aku sekenanya mendampingi bulan

Kutanya kenapa malam ini ia lara

Makin redup cahayanya,

Makin mengiris jiwa

Tak bisa kupaksa bulan malam ini gagah sebagai penguasa malam

Ia tak ubahnya pria yang terluka

Selamat malam..

Maaf tak bisa ku hapus dukamu

Beristirahatlah..

Tak lama lagi tugasmu berganti matahari..

Tapi janji..

Besok bertemu kembali..

Jangan murung, sayang..

Tuhan, selamat malam..

Di tengah keegoisanku, kali ini aku menghadap

Aku ingin kita berbincang sejenak

Ah, seharusnya aku tahu bahwa Kau seharusnya aku ajak bicara setiap saat

Tidak hanya di kala aku sedang bodoh seperti ini..

Terkadang manusia begitu angkuhnya

Merasa paling kuat dari beringin tua sekalipun

Merasa tak akan lapuk dengan zaman

Merasa kokoh dan maha ..

Maka izinkanlah malam ini aku menangis..

Menangis di tengah keterpurukanku..

Menangisi kebodohanku yang tak kunjung habis sumbunya

Menangisi ketegaranku yang luruh..

Menangisi keputusanku yang salah..

Menangisi ketidakberdayaanku..

Maka malam ini izinkanlah aku menangis..

Menangisi bahwa benar aku bukan yang sempurna..

Menangisi karena aku tak tahan lagi menyimpan getir dalam senyum..

Menangisi karena tak ada lagi yang bisa aku singgahi..

Menangisi bahwa ke tempat aku harus berlari pun, aku tak temukan jiwa..

Menangisi ketersesatan yang tak berakhir..

Menangisi semua hampa kosong..

Menangisi karena tak ada seutas tali pun yang bisa diraih dan dipegang ujungnya..

Menangisi penyesalan penyesalan kosong..

Menangisi berada di jalan yang salah dan tak bisa berbalik..

Menangisi karena tak tahu lagi harus berlari kemana untuk sembunyi dan mengambil nafas..

Menangisi bahwa usahaku untuk mempertahankan apa yang aku pikir baik adalah sia sia..

Bahwa dengan sekuat jiwa ragaku aku tak mampu mendaulat apapun untuk bisa menjadi pelita..

Tuhan, sibukkah Kau malam ini?

Ah lagi-lagi aku menganggapMu jauh dariku..

Bencikah Kau padaku Tuhan?

Ah terserah jawabMu.. aku toh tak bisa mengubah ketetapanMu..

Kuharap Kau sedikit beri aku dispensasi untuk bisa memberiku sayangMu lagi..

Boleh aku minta sesuatu?

Malam ini dan seterusnya beradalah di sampingku, berjanjilah tidak lagi pergi..

Jangan beri aku mimpi apapun..

Aku hanya ingin kita berdua saja..