Hanya ada dua sisi yang terlihat
Satu sisi aku melihat ruang gelap nan hitam pekat bersisikan kiri
Disisi lain kanannya adalah petak bercahaya
Terkadang manusia tersesat
tak tahu arah pulang
dan berjejal dengan kepura-puraan
lalu hampa sendiri
Terkadang manusia sendiri
tak tahu kemana harus bersandar
menaruh punggung tak kunjung tegak
tak selamanya kokoh…
Berdamai dengan masa lalu
ada nyaman di sana
tak perlu ku menjadi matahari
karena ia akan menerimaku meski hanya bintang
Tak perlu ada yang kututupi
karena akan menerima apa adanya
tak akan menggugat sempurnaku
ia tahu lemah kurangku
aku pulang ke rumah
Aku beranjak ke hangat asal muasalku
aku disadarkan sejatinya jiwa
aku tanggalkan resahku..
Selamanya aku di sini..
tak ingin menggurat resah
tak ingin hilang lagi
aku kenal dia..
Malam ini dalam perjalanan pulang ..
Kusaksikan bulan menggantung di pelataran langit hitam
Belum bulat sempurna, masih ada sebagiannya gelap
Kutangkap ada pesan.. bulan malam ini murung..
Maka tampaklah sinarnya muram
Tak ada gairah, tak ada marah, tak pula damai
Bulan hanya menjalankan tugasnya, tanpa nama
Hanya berbekal resah
Maka aku sekenanya mendampingi bulan
Kutanya kenapa malam ini ia lara
Makin redup cahayanya,
Makin mengiris jiwa
Tak bisa kupaksa bulan malam ini gagah sebagai penguasa malam
Ia tak ubahnya pria yang terluka
Selamat malam..
Maaf tak bisa ku hapus dukamu
Beristirahatlah..
Tak lama lagi tugasmu berganti matahari..
Tapi janji..
Besok bertemu kembali..
Jangan murung, sayang..
Tuhan, selamat malam..
Di tengah keegoisanku, kali ini aku menghadap
Aku ingin kita berbincang sejenak
Ah, seharusnya aku tahu bahwa Kau seharusnya aku ajak bicara setiap saat
Tidak hanya di kala aku sedang bodoh seperti ini..
Terkadang manusia begitu angkuhnya
Merasa paling kuat dari beringin tua sekalipun
Merasa tak akan lapuk dengan zaman
Merasa kokoh dan maha ..
Maka izinkanlah malam ini aku menangis..
Menangis di tengah keterpurukanku..
Menangisi kebodohanku yang tak kunjung habis sumbunya
Menangisi ketegaranku yang luruh..
Menangisi keputusanku yang salah..
Menangisi ketidakberdayaanku..
Maka malam ini izinkanlah aku menangis..
Menangisi bahwa benar aku bukan yang sempurna..
Menangisi karena aku tak tahan lagi menyimpan getir dalam senyum..
Menangisi karena tak ada lagi yang bisa aku singgahi..
Menangisi bahwa ke tempat aku harus berlari pun, aku tak temukan jiwa..
Menangisi ketersesatan yang tak berakhir..
Menangisi semua hampa kosong..
Menangisi karena tak ada seutas tali pun yang bisa diraih dan dipegang ujungnya..
Menangisi penyesalan penyesalan kosong..
Menangisi berada di jalan yang salah dan tak bisa berbalik..
Menangisi karena tak tahu lagi harus berlari kemana untuk sembunyi dan mengambil nafas..
Menangisi bahwa usahaku untuk mempertahankan apa yang aku pikir baik adalah sia sia..
Bahwa dengan sekuat jiwa ragaku aku tak mampu mendaulat apapun untuk bisa menjadi pelita..
Tuhan, sibukkah Kau malam ini?
Ah lagi-lagi aku menganggapMu jauh dariku..
Bencikah Kau padaku Tuhan?
Ah terserah jawabMu.. aku toh tak bisa mengubah ketetapanMu..
Kuharap Kau sedikit beri aku dispensasi untuk bisa memberiku sayangMu lagi..
Boleh aku minta sesuatu?
Malam ini dan seterusnya beradalah di sampingku, berjanjilah tidak lagi pergi..
Jangan beri aku mimpi apapun..
Aku hanya ingin kita berdua saja..