Minggu, 02 Januari 2011

Jarak ini nyata terbentang diantara aku dan adamu

Apa cukup kerinduanku mengantarkanmu sekan dekat denganku ?!

Andaikan sebuah andai bisa sangat nyata

Maka akan ku jadikan inginku denganmu dalam sebuah ‘Andai’

Waktu saja hanya menjdai penonton yang terpaku dengan kisah kita

Jalan cerita ini akan terhenti sejenak dengan dua arah yang bertentangan, dan masing-masing dari kita harus memilih

Satu jalur akan membawamu berjalan beriring yang bukanlah hatiku yang kau akan bawa

Sedangkan setapak lain terhamparkan untukku berlabuh pada kekosongan dan kehampaan tanpamu

Tapi inilah akhir dari kisah yang harus tertuliskan sang pencerita untuk kisah cintanya

Tidaklah harus manis terasa terkadang pahit lebih berarti

Karena ia membuat indra perasa ini kebal atas rasa apapun jua

Untuk simalakama atau butrowali sekalipun

Aku mencintaimu…

Tapi apa cintaku terbalas ?

Darimana ku tahu itu ?

Karena bukan hatiku yang kau pilih untuk keabadian

Karena bukan aku yang bersanding denganmu

Apa aku yakin ?!

Sepenuhnya yakin…

Pada cinta yang tak terbalas ada luka

Ada harapan yang tertunda

Kecewa pada takdir,mungkin…

Apa salahku dengan rasa cinta yang kumiliki ?!

Tidak ada yang salah

Dan sekaligus tidak ada yang benar

Yang ada hanyalah ketiadaan

Tidak untuk sebuah suratan Penguasa

Tidak untuk dia menjadi yang terbaik untukku

Tidak untuk memilikinya

Tidak untuk berbagi dunia dengannya

Yang tersisa adalah AKU !

Begitu pentingkah menitikan air mata ?

Di kala tangis hanya sebuah isakan

Di saat duka melepur dalam lara

Apakah harus meneteskan air mata ?

Dalam suara sumbang kerinduan hanya melambung angan

Dalam senyap diri sesumbar kesedihan

Mengapa harus menitihkan air mata ?

Dengannya kaupun tak kan pernah tau apa-apa

Dengannya lirih itu tetap menyayat

Bagaimana jika aku tak mampu membendung tetes air mata ?

Uraikan saja kebeningnya hingga merentas sayat hati

Uraikan saja butiran-butirannya hingga raga kembalikan jiwa

Dan haruskah…

Tidak seharusnya !

Ada keindahan hati untuk mencinta

Ada ketulusan jiwa untuk saling menyayangi

Ada kelapangan dada untuk menghormati

Ada sekelumit hati pula yang terpatahkan

Ada juga ketulusan jiwa yang tersia-siakan

Ada pula kelapangan dada yang terlupakan

Hati yang indah tak lagi tampak bagai sekuntum mawar merekah

Jiwa yang tulus pun tak seputih awan berarak

Dada yang terlapangkan jua tak lagi menghamparkan dunia

Semua kosong……hampa……dan tak beriak lagi

Untukmu aku menyadari seumur hidup yang tersisa

Untukmu aku menyelami kedalaman hasrat mencinta

Untukmu aku memiliki hal yang tak pernah jadi biasa

Untukmu aku mengikat janji kesetianku

Untukmu aku menjadi budak sebuah nafsu

Tapi aku hanya manusia dengan lebihku berdamping kenistaan

Aku dan hanya aku yang tak berarti apa-apa bagimu

Jika harus aku mengabdikan diriku padamu

Maka bahagiaku akan merentas untukmu